Delapan dari Duabelas


Aku tidak tau bagaimana cara Tuhan bekerja, konsep takdir di buat, dan sekema proses dari hasil yang harus dijalankan. Yang ku tau hanyalah menjalankan dengan kendaraan berupa keyakinan. Satu tahun pertaruhan bukanlah waktu yang cukup untuk mendapatkan hasil, menjalankan proses dengan sedikit kepahitan, menguatkan tekad dengan banyak dukungan sangat memberi kesan dalam lingkar pertaruhan ini.

Menjadi single fighter itu melelahkan, meragukan orang lain itu kesalahan.

Lihat sekitar…

Betapa banyak yang lebih baik, betapa banyak yang peduli, betapa banyak yang satu misi.

Dalam ruang sempit yang cukup melengkapi kebutuhan, masih ada ruang besar yang masih kosong. Yang dibutuhkan hanya buka pintu dan berjalan keluar.

Sesungguhnya dunia itu berwarna warni dalam konsep imajinasi, dan aku akan menjadi apa yang ku pikirkan.

Hari ini, ke delapan dari duabelas sudah sedikit menunjukan arah. Dan hasil linkar pertaruhan pun semakin terlihat.

Untuk setiap saat… Terimakasih wahai Zat pemilik konsep.

Untuk saat ini… Terimakasih para figur sekitar.

Dan untuk delapan dari duabelas, aku tunggu hal selanjutnya…

Iklan

Bukan Tigabelas


Keputusan, Pertaruhan dan percobaan…..

Jiwa Idealis ini belum juga sirna seiring umur yang menua. Seputar pekerjaan, penghasilan dan percintaan akan dipertaruhkan di tahun ini. Keputusan rumit dan misteri kepastian di depan menjadi konsekuensi yang akan di terima sedari saat ini.

Terhitung saat ini yang seharusnya Tigabelas semoga menjadi keputusan yang terbaik. Seperti halnya hukum alam, tentunya perkembangan akan menghasil kan suatu perubahan, termasuk perubahan sikap. Bukan berarti melupakan melainkan mecoba fokus sehingga terkesan mengabaikan. Mohon maaf untuk hal ini, yang dibutuhkan hanya kesabaran, support dan pengertian. mengenai prihal percintaan, entahlah sikap ini benar atau salah karna terkesan tidak peduli. Tapi sesungguhnya inilah bukti kesungguhan.

Semoga dapat dimengerti

Semoga dapat dipahami

dan semoga berarti

PENGECUT !!!!!!


🙂 Mother’s Day…! 

22 Desember… Semua media sosial di penuhi dengan gambar dan kata-kata tersebut. biasanya saya tak perduli, tapi kini……

Entahlah, seperti ada yg bergetar setiap kali melihat, mendengar, bahkan menerima pesan broadcast yang bersangkut dengan hal ini. bagi saya ini sangat sensitif, bukan karena sudah tidak memimiliki orang tua, melainkan banyak hal yg saya sesali pada diri saya untuk Beliau.

Terlahir keras dengan ego luar biasa, terkadang terang dan gelap tak seirama dengan keadaan. inovator pemalas dengan khayalan segudang, kritis dengan pengetahuan yang tragis, sampai menangis tanpa terlihat berlinang. Hingga tiba pada suatu titik di posisi menyerah lalu kemudian bangkit, tak lama berselang menyerah lagi hingga akhirnya masih mencoba bangkit.

Terbiasa liar dengan kebebasan dunia luar, hingga sangkar pun terlupakan. tempat dimana kucuran harapan ditujukan, Tumpukan rasa kebanggaan diberikan, seperti tergantikan oleh rasa solidaritas dalam sebuah lingkungan.

Lambat laun semakin menua, Dewasa tiba entah datang dari mana, semakin matang semakin merasa diam adalah yang terbaik. dalam diam terbesit fikiran dan penyesalan akan keterlewatan masa indah berupa kucuran harapan dan tumpukan kebanggaan yang harusnya dirasa pada masanya.

Tamparan malu saat menoleh kebelakang selalu mamburu, untuk meminta kembali semuanya pada fase ini pun terasa sungkan. jiwa terlalu takut untuk meminta, terlalu berat untuk berucap. berharap waktu menunggu hingga semuanya menjadi siap. Tapi entah kapan……….

Semoga saja waktu mau menunggu, semoga saja waktu mau mengerti.

maaf untuk mu……..

Tigabelas Januari…


Untuk apa kita di sini kalau akhirnya pasti kembali?

Sejenak berfikir tentang arti hidup dan mungkin persepsi sementara, ini hanya sekedar skenario tingkat tinggi tentang perkenalan duniawi dan arti imajinasi.

sebagian besar keinginan hidup mungkin tanpa sadar telah terpenuhi, sebagian imajinasi yg hanya mimpi perlahan telah terjadi.

Apalagi yang dinanti?

Kesempurnaan hidup?

Takkan ada yg namanya kesempurnaan bagi manusia, karna fitrahnya sebagai mahluk yang tak pernah merasa puas.

Saatnya kembali kepada konsep awal kehidupan.

Dimana terciptanya Surga dan Neraka

Dimana terciptanya Adam dan Hawa

Dimana terciptanya awal mula Dunia

Dan dimana pada akhirnya semua berada.

Seperti perkataan Nya kepada para hamba “jika engkau hanya menginginkan dunia maka akan Aku berikan, namun akan kujauhkan kau dari Surga Ku”. Sesungguhya Dia lah yang paling bijak diantara para bijak yang kasat mata, karna Dialah sang pencipta.

Tigabelas Januari…

Menjadi saksi kemajuan diri, menjadi saksi sebuah rotasi dalam awal pemikiran mandiri, menjadi pribadi yang merasa semakin menua dan berharap berarti.

Tigabelas Januari…

Dimana awal sebuah harapan tertuju padaku bagi orang tua serta semua pribadi sekitarku. Dimana dunia menyambut kedatanganku.

Tigabelas Januari…

Terimakasih

DEBU – DEBU BETERBANGAN


Demi masaimages
Sungguh kita tersesat
Membiaskan yang haram
Karena kita manusia

Demi masa
Sungguh kita terhisap
Ke dalam lubang hitam
Karena kita manusia

Pada saatnya nanti
Tak bisa bersembunyi
Kitapun menyesali, kita merugi
Pada siapa mohon perlindungan
Debu-debu berterbangan

#Efek Rumah Kaca Lyrics

Engkau tercipta berkat “Dakwah Pencitraan”


Seruan samar dalam sebuah tulisan,

lantang berdakwah dalam komunikasi jejaring informatika.

Baikkah dari segi toleransi dari sebuah “Dakwah via Online” jika terkadang mengandung unsur yang frontal dan menyinggung kaum lain. bukan aku tak mengerti maksud kalian, bukan juga aku tak menghargai tujuan kalian. Coba renungkan komunikasi sensitif dalam sebuah dakwah yang tanpa bertatap jiwa dan raga. bukan menutup kemungkinan jika akan terjadinya sebuah kesalah pahaman ataupun rasa ketersinggungan dari pihak kaum lain yang jelas belum tentu bisa memahami tema yang di maksud.

Atau yang terparah “dakwah via Online” hanya dijadikan sebagai media pencitraan. Tragis memang (jika memang di kategori ini), sebusuk bau bangkai lebih busuk sebuah perkataan yang di ucapkan hanya sebagai topeng imajinasi si pembicara. berkacalah wahai pendakwah pencitraan yang hanya terbawa sebuah eksistensi dan popularitas. Bahwasanya Ucapanmu ialah lebih dari sebusuk-busuknya bau bangkai.

Namun mungkin juga saya yang memang berbau busuk karena telah mencibir sebuah realita yang ada. walau begitu apa bedanya saya dan juga anda yang hanya bisa berbicara? yang jelas hanya masing-masing pribadi yang sanggup menilai antara “Saya” dan “Anda”